"Do whatever YOU THINK is right!"

Minggu, 12 Oktober 2014

ANTAR DIMENSI

Sebuah cerpen karya Jourdan Lesilolo...


A N T A R < > D I M E N S I



Setelah mengalahkan Perancis, Hitler mengira Inggris pasti bersedia untuk berdamai, sehingga Jerman bisa dengan mudah menyerang Rusia. Namun dia salah, Inggris berkali-kali menolak permohonan perdamaian dengan Jerman. Ketidaksediaan Inggris tersebut dijawab Hitler dengan mengeluarkan surat perintah yang isinya mengadakan persiapan untuk invasi ke Inggris.

Hari menjelang malam, Ernest von Kluge melakukan persiapan terakhirnya sebelum turun ke medan perang.  Ia dipasangkan dengan dua orang pilot muda yang baru di rekrut skuadronnya, yang satu bernama Hugo, pemuda berusia 19 tahun yang berasal dari kota Frankfurt, yang seorang lagi pemuda berbadan tinggi tegap bahkan lebih tinggi dari Ernest, ia bernama Friedrich yang juga merupakan putra dari salah satu petinggi Luftwaffe.

Mereka berkumpul dan mendengarkan instruksi dari sang komandan operasi mengenai penyerangan yang akan mereka lakukan malam nanti.
Unternehmen Seelӧwe? Terdengar keren”
“Ya, kita akan melumpuhkan Royal Air Force dan instalasi militer Inggris di pesisir pantai agar memudahkan angkatan laut dalam menjalankan Unternehmen Seelӧwe (Operasi Singa Laut)” jawab Ernest.
“Aku yakin angkatan udara kita mampu mengalahkan RAF. Akan menyenangkan bukan jika kita memenangkan perang ini? dan selangkah lagi aku akan naik pangkat”
“Hey Hugo, fokuslah pada penyerangan nanti malam”

Invasi Jerman oleh Luftwaffe dimulai tepat pukul delapan malam. Ernest beserta kedua rekannya Friedrich dan Hugo naik ke atas pesawat dan lepas landas pergi meninggalkan pangkalan udara menggunakan pesawat Junkers Ju-88 milik Jerman. Entah mengapa Ernest yang awalnya tidak merasa takut dan kuatir tiba-tiba saja menjadi gelisah seakan sesuatu mengganggu pikirannya, ia merasa sesuatu yang buruk akan terjadi. Benar saja tak lama setelah memasuki daerah musuh, dua pesawat Junkers tertembak, ia pun langsung keluar dari formasi, tapi apa daya pesawatnya pun ikut tertembak. Mereka berhasil keluar pesawat dan melakukan terjun payung sebelum pesawat mereka menghantam tanah, tetapi nasib sial dialami Hugo, ia tidak berhasil keluar dari pesawat, bahkan tak lama kemudian Ernest mendengar suara tembakan bersamaan dengan teriakan Friedrich. Ernest pun dengan segera melepaskan parasutnya dan menjatuhkan diri, ia jatuh dari ketinggian dua puluh meter ke tengah hutan nan lebat, ia selamat tetapi darah keluar menganak sungai dari kepalanya. Ia merasa inilah akhir hidupnya, sesaat kemudian ia terbayang kembali detik-detik kematian ayahnya yang tewas tertembak oleh mata-mata Britania Raya di depan matanya dan kata-kata terakhir ayahnya pun terus menggaung di kepalanya.
Mein Sohn, die Freudenheit wird genommen wenn wir der Krieg gewinnen” yang artinya anakku, kedamaian hanya akan didapatkan jika kita memenangkan perang.

Mengingat kata-kata ayahnya, ia pun bangkit berdiri dan mulai berlari. Tentara Inggris mengejarnya, ia terus berlari dengan bersusah-payah menghindar dari kejaran tentara Inggris.
Tiba-tiba ia melihat sesosok wanita berpakaian putih dari kejauhan, wanita tersebut terkejut dan berlari, Ernest pun mengejar wanita tersebut hingga melihatnya masuk ke dalam gua di tengah hutan tersebut. Mendengar suara tentara Inggris mendekat, ia pun memutuskan untuk masuk ke dalam gua. Tak ada sedikitpun cahaya disana, yang terdengar hanyalah suara nyanyian jangkrik dan serangga lain penghuni gua tersebut. Ia berjalan perlahan menyusuri gua hingga terlihat setitik cahaya dari kejauhan, ia berlari menuju cahaya tersebut hingga akhirnya melihat jalan keluar dan menemukan dirinya berada hutan yang bahkan jauh lebih lebat lagi. Dia tak mungkin kembali ke gua tersebut, tentara Inggris sudah pasti akan menghabisinya begitu ia ditemukan, maka ia memutuskan berjalan membelah lebatnya hutan tersebut ditemani sinar dewi malam yang menghujani hutan itu. Ernest sudah tidak sanggup berjalan,ia terjatuh dan tak sadarkan diri.

Cahaya sang raja siang di pagi hari dan suara burung berbincang-bincang membangunkannya, dia mencoba bangkit berdiri tetapi tidak bisa, kedua kakinya seakan mati rasa. Kemudian seseorang datang mengejutkannya,
                “Kau sudah bangun?”
                “Siapa kau!?”, Ernest terkejut
                “Maafkan aku mengagetkanmu, perkenalkan namaku Marie”
                “Kau yang memasang perban ini?”
                “Ya, tentu saja tidak mungkin sebuah perban bisa melekat sendiri tanpa ada yang memasangkannya”
 “Terima Kasih banyak, namaku Ernest, kenapa kau menolongku?”
“Apa yang kau harapkan? Aku sedang mencari kayu bakar di hutan dan aku menemukanmu disini tergeletak dan terluka, tidak mungkin aku membiarkanmu. Lagipula apa kau lakukan disini dan apa yang terjadi padamu?”
Ernest terdiam tak menjawab, kejadian semalam masih menghantui pikirannya
                “Hey, apa kau mendengarkanku?”
                “Maafkan aku, semalam aku melihat seorang wanita berpakaian putih yang masuk ke gua, mengikutinya dan aku sampai di hutan ini”
“Gua? Gua apa? setiap pagi aku mencari kayu bakar disini dan aku tidak pernah melihat gua”
“Aku tak berbohong, aku benar-benar melewati gua setelah semalam aku terjatuh dari pesawat dan temanku tertembak, sekarang tentara Inggris pasti sedang memburuku”
                “Apa maksudmu? Pesawat? Tentara Inggris? Kau pasti terbentur cukup keras, lebih baik kau beristirahat dulu di rumahku ”

                Mereka berjalan meninggalkan hutan. Ernest yang sudah tidak kuat berjalan menumpang keledai milik Marie. Tak lama setelah mereka meninggalkan hutan, mereka sampai di sebuah pedesaan kecil dan sampailah mereka di kediaman Marie.
                “Ibu, mengapa pulang lebih cepat? Dan... siapa dia?
                “Ernest, perkenalkan ini Anna, anakku, Anna ini Ernest, ia ibu temukan terluka dan tak sadarkan diri di hutan”
Seketika Ernest terpesona oleh kecantikan Anna yang bagaikan seorang Cleopatra.
                “Hai Anna”, seketika itu juga Anna merasakan jantungnya seperti melompat-lompat ingin keluar.
                “Hai”, Anna menjawab pelan.

                Malam hari pun tiba, Marie dan Anna mengajak Ernest untuk bersantap bersama mereka dan memperbolehkannya menetap di rumah mereka untuk sementara.
                “Apakah sebaiknya kita menunggu seseorang lagi sebelum kita mulai makan?”, tanya Ernest
                “Ayahku sudah meninggal beberapa tahun yang lalu”, jawab Anna
                “Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu sedih”
                “Sudahlah, kita tidak perlu membicarakan kematian suamiku. Bagaimana denganmu? Bagaimana kau bisa sampai disini dan dari mana asalmu?” tanya Marie
Ernest menjelaskan bagaimana ia bisa sampai disini, Marie dan Anna seolah tak percaya apa yang mereka dengar. Ernest diberi penjelasan bahwa saat ini Ernest berada di sebuah desa di kerajaan Waldberg yang ternyata seperti kerajaan di abad pertengahan masih sangat sederhana teknologinya, tidak ada pesawat, tidak ada kendaraan bermesin, yang ada hanyalah kendaraan tak bermesin yang ditarik oleh kuda dan sebagian besar penduduk desa menggunakan keledai sebagai pengangkut barang, pasukan kerajaan pun masih menggunakan pedang, tombak dan semacamnya. Ernest mengutarakan niatnya untuk kembali ke dunia asalnya, dan menanyakan soal gua yang berada di tengah hutan tersebut, tetapi tak satupun dari Marie dan Anna yang tau mengenai gua tersebut.

                Tak mendapat jawaban, Ernest pun memutuskan untuk pergi sendiri ke hutan yang berada di timur desa tersebut untuk mencari gua tersebut. Ernest berharap ia akan menemukan guanya pada hari pertama ia mencari gua tersebut, namun 3 hari lamanya ia mencari, gua tersebut tak kunjung ia temukan. Ia mulai putus asa dan kembali ke desa.
                Di desa, kabar mengenai Ernest mulai tersebar, seluruh penduduk desa seperti telah mengetahui cerita Ernest, beberapa orang tampak menjauh dari Ernest. Saat ia membeli beberapa bahan makanan, ia mendengar dua orang berbincang di kejauhan,
                “Hey, lihat itu, apakah dia benar orangnya?”
                “Ya, lihat saja gaya berpakaiannya yang aneh”
                “Apakah gua itu benar-benar ada? Itu seperti bualan belaka”
                “Aku tidak tahu, aku yakin jika kita menanyakan tetua Rokossovsky dia pasti tau jawabannya”

                Sesampainya di rumah Marie, ia menanyakan perihal tetua Rokossovsky. Marie terkejut bagaimana Ernest bisa mengetahui tentang tetua Rokossovsky. Marie menjelaskan, tetua Rokossovsky adalah orang yang katanya salah satu pendiri awal desa ini, ia sangat mengetahui tentang seluk beluk desa ini termasuk hutan di timur desa, oleh sebab itu ia dijuluki tuan serba tahu, ia juga diketahui menguasai dan dapat menggunakan sihir yang biasa digunakan jika ada orang sakit parah dari desa yang datang kepadanya untuk pengobatan dan dia dapat menyembuhkannya. Walaupun  begitu, tetua Rokossovsky sangat tidak menyukai orang lain, ia menganggap orang lain hanyalah pengganggu maka dari itu ia tinggal di Gunung Dahchenatem di selatan desa tersebut dan mengusir semua orang yang datang ke kediamannya jika permintaan mereka tidak lazim.

                Esok paginya, menggunakan kuda ia pergi ke Gunung Dachenatem dan sampai di kediaman tetua Rokossovsky, rumah tua ini sangat kecil, terbuat dari kayu dan menempel ke pohon berbatang sangat besar di belakangnya. Ia pun mengetuk pintu rumah yang telah lapuk tersebut dan seketika itu juga seseorang dengan suara yang sangat menyeramkan berteriak  dari dalam rumah,
                “Pergi kau dasar pengganggu, aku tidak akan menjawab pertanyaan-pertanyaan bodohmu” teriak Rokossovsky marah.
                “Tuan, aku Ernest, aku ingin mengetahui tentang hutan di timur desa”
                “Aku bilang pergi!”
                “Aku mohon tuan, aku terjebak di dunia ini dan ingin kembali ke duniaku”
                “Pergi atau kukutuk kau”
                “Aku masuk ke gua di tengah hutan dan terjebak di dunia ini”
Kemudian, suara teriakannya tidak terdengar lagi, dari balik pintu terdengar langkah kaki berjalan mendekat. Jantung Ernest berdetak kencang, membayangkan bagaimana jika tetua Rokossovsky menggunakan sihir dan membunuhnya sekarang karena ia tidak menghiraukan usiran tetua Rokossovsky. Tak lama kemudian, pintu yang penuh rayap itu terbuka perlahan.
                “Masuklah, ceritakan bagaimana kau bisa sampai disini”
Lalu Ernest menceritakan dengan panjang lebar cara ia bisa sampai disini dan memberi tahu niatnya untuk kembali ke dunia asalnya.
                “ Jadi kau ingin aku menunjukkan jalan ke gua tersebut? Mengapa kau ingin kembali ke duniamu? Bukankah manusia disana selalu berperang?”, tanya tetua Rokossovsky
                “Ya aku ingin kembali untuk memenangkan perang agar dapat membawa kedamaian di dunia” jelas Ernest.
Tetua Rokossovsky terdiam kemudian menjawab,
                “Jika itu memang tujuanmu, kembali untuk berperang, maafkan aku, aku tak bisa membantumu, sekarang pergi dari rumahku”
                “Tapi bagaimana nasibku? Seperti katamu, manusia disana memang selalu berperang, tapi aku akan memenangkan perang dan kedamaian akan tercipta”
                “Kau pikir perang dapat menciptakan kedamaian? Kedamaian melalui perang itu tidak pernah ada, kedamaian yang sesungguhnya tidak dicapai melalui perang, lihat desa ini, lihat kerajaan ini, mereka hidup damai berdampingan dengan kerajaan lain tanpa perang, perang hanya akan memakan korban orang-orang tak bersalah, sekarang pergi dari rumahku atau aku yang akan pergi”
                “Tuan Rokossovsky aku...”
Rokossovsky keluar dari rumahnya, ia menutup pintu, dengan segera Ernest mengejarnya, namun begitu ia membuka pintu, tetua Rokossovsky sudah hilang tanpa jejak. Ernest mencarinya di sekitar rumah tua itu namun tetap tak menemukannya.

                Ia kembali ke desa dengan kekecewaan yang teramat sangat, ia pasrah, ia merasa ia tidak akan bisa kembali ke dunianya. Ia tetap tinggal dengan Marie dan Anna dan setiap pagi pergi membantu Marie mencari kayu bakar di hutan. Walaupun ia sangat mencintai Anna, tapi keinginannya untuk kembali ke dunia asalnya sangat besar, setiap pagi saat mencari kayu bakar, ia selalu berharap dapat melihat atau menemukan petunjuk keberadaan gua tersebut.

                Hari demi hari ia lewati bersama Anna, ia mulai terbiasa tinggal di desa tersebut. Desa yang penuh dengan kedamaian karena sarat akan kebersamaan, hal ini tak hanya terjadi di desa ini, seluruh daerah kerajaan Waldberg pun mengalami hal yang sama, ada kedamaian dimana-mana. Kerajaan ini sangat menghindari perang, mereka lebih memilih untuk bekerja sama dengan kerajaan lain daripada harus mengerahkan pasukannya untuk memperluas daerah kekuasaan. Ernest pun sekarang sadar bahwa kedamaian yang sebenarnya bukan didapatkan jika memenangkan perang, tetapi kedamaian yang sebenarnya adalah kedamaian yang diciptakan melalui kehidupan yang dipenuhi kebersamaan, kesederajatan, dan persatuan antar perbedaan.

                Pada suatu pagi biasa, di hari yang biasa, Ernest melakukan kegiatan hariannya, mencari kayu bakar di hutan. Tak berapa lama setelah ia merasa kayu bakar yang ia kumpulkan sudah cukup banyak dan memutuskan untuk kembali ke desa, Ernest bertemu dengan tetua Rokossovsky.
                “Ernest, mungkin kau sudah tahu mengapa aku ada disini, aku mengetahui bahwa kau sudah mengetahui arti kedamaian yang sebenarnya, karena itu aku akan memenuhi permintaanmu untuk membuka jalan menuju gua yang kau cari. Apakah kau masih ingin kembali ke dunia asalmu?”
Perasaan Ernest bercampur aduk, ia bimbang, di satu sisi keinginannya yang sudah lama terpendam akan segera terwujud, namun di satu sisi ia sudah mulai terbiasa tinggal disini ia telah menemukan cintanya disini. Akhirnya Ernest memutuskan untuk kembali ke dunia asalnya dan berencana tidak memberitahu Marie dan Anna. Lalu Ernest bersama tetua Rokossovskyberjalan ke tengah hutan, disana tetua Rokossovsky seperti mengucapkan mantra dalam bahasa latin, lalu sebuah batu besar didepannya terbelah dua, ia merasa ini memang gua yang ia cari selama ini, begitu ia ingin mengucapkan terima kasih, tetua Rokossovsky lagi-lagi menghilang. Ia masuk ke gua tersebut, mendengar suara nyanyian jangkrik dan serangga lainnya yang persis seperti saat pertama kali ia masuk ke gua itu. Ingatannya pun mulai pulih, ia tersadar sudah berapa lama ia meninggalkan dunia ini, bagaimana dengan perangnya? Ia lalu berjalan keluar hutan ke daerah pesisir pantai dekat hutan, tak ada suara pesawat, tak ada suara tembakan, ia mendengar keramaian di pantai itu, mereka adalah warga sipil. Rupanya sudah 3 tahun berlalu setelah perang dunia kedua usai, ia lalu memutuskan untuk tinggal dan menetap di suatu apartemen di Inggris. Kehidupan berjalan seperti biasa hingga suatu hari ia bertemu seorang wanita bernama Vanessa yang sangat mirip dengan Anna, ia tinggal satu apartemen dengan Ernest.


.the End.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar